Dalam hidup kita selalu dikelilingi masalah. Tidak satu pun orang normal di dunia ini yang tidak memiliki masalah, sekecil apapun, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Masalah menyenangkan? Ya, sesuatu yang menyenangkan yang hadir di hadapan kita adalah bagian dari masalah. Contohnya, menerima uang, baik hasil kerja (gaji) atau pemberian, menyenangkan kan? Setelah uang diterima, kita lekas berfikir mau diapakan uangnya? Kita segera mempertimbangkan, menghitung segala sesuatunya sebelum kita memutuskan penggunaan uang yang baru saja kita terima. Artinya, kita baru saja menyelesaikan masalah. Memang, itu tidak terasa sebagai masalah karena kita memikirkannya dengan "semangat" dan senang hehe. Tidak pernah ada seseorang mengatakan "Aduh saya dapat masalah nih, saya baru terima gaji" hehehe. Respon yang diterima jika ada yang mengatakan begitu paling "Rese lu!".
Mengasosiasikan masalah dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, menurutku itu hanya pengertian masalah dalam arti yang sempit. Tapi memang, masalah dalam arti yang sempit ini lah yang berlaku umum. Ketika mendapatkan kesulitan, barulah kita menganggapnya sebagai sebuah masalah.
Kunci menghadapi setiap masalah di dunia ini adalah rasa syukur dan optimis. Syukur menjadikan hidup kita tenang karena kita selalu merasa cukup. Kata orang, kaya itu bukan seberapa besar harta yang dimiliki, tetapi seberapa syukur hati kita terhadap apa yang kita miliki. Optimis membuat hidup kita bergairah karena kita yakin selalu ada jalan keluar atas kesulitan yang kita hadapi. Orang yang optimis akan selalu berfikir positif dan selalu mencari solusi. Jika kita telah memiliki rasa syukur dan optimisme, maka kita memiliki modal sangat berharga untuk menjadi sukses. Modal itu menjadi luar biasa jika dilengkapi dengan kreatifitas.
Dalam menghadapi kesulitan, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan solusi. Keberhasilan kita menemukan sebuah pilihan baru diantara sekian banyak pilihan yang telah tersedia berarti kita telah berfikir kreatif. Membuat yang baru bukan melulu menciptakan dari yang tidak ada,tetapi menyempurnakan yang telah ada, atau meramu sekian banyak pilihan yang telah ada, sehingga menciptakan sesuatu yang berbeda dari yang telah ada.
Untuk menjadi kreatif, kita perlu terus menggali ide-ide. Keaktifan kita untuk selalu menggali ide-ide dan menciptakan sesuatu yang berbeda memberikan tantangan yang akan membuat hidup kita semakin hidup, tidak terbelenggu rutinitas dan business as usual.
Jangan hanya terpaku pada pilihan-pilihan yang telah ada, tapi coba lah temukan sesuatu yang baru! Mengikuti keberhasilan langkah yang telah ditempuh orang lain adalah mudah, namun kita akan dengan mudah terhenti jika dihadapkan pada kondisi yang berbeda, karena kita hanya meniru.
wuiiihh serius amat....
Harry Irawan - http://harryirawan.blogspot.com
Tempat aku bercerita, berkeluh kesah, berbagi tentang apapun. Apa yang kufikirkan dan kurasakan semua aku tumpahkan disini. It's DoFollow !
Minggu, 27 Desember 2009
Sabtu, 26 Desember 2009
Serunya Mancing
Musim liburan sekarang ini waktunya kita melakukan semua hobby. Bagi yang sudah berkeluarga, pastinya tidak mungkin melakukannya sendiri tanpa mengajak anggota keluarga, karena waktu luang kita juga sangat ditunggu-tunggu oleh mereka. Yang paling asik memang melakukan hobby kita sekaligus menemani keluarga. Memancing adalah salah satunya.Walaupun saat memancing masing-masing sibuk, istri sibuk updating status facebook-nya dan mengeluh masuk angin, karena memang angin di pemancingan lumayan kencang hehehe, si kecil sibuk mengejar-ngejar bebek dan capung (dragonfly) hehehe, tetap saja asik karena pastinya diselingi obrolan dan candaan ditambah lagi tingkah polah anak yang tidak habisnya mengundang tawa (walaupun kadang-kadang ngeselin hehe).
Buat kami memancing hanya sekedar refreshing. Tapi, memancing bagi sebagian penggemarnya juga banyak ditekuni secara serius. Mulai dari peralatan, tempat memancing, hingga persoalan-persoalan detail terkait hobby memancing ini mereka benar-benar dalami. Bahkan, banyak sekali diselenggarakan lomba-lomba memancing yang diikuti begitu banyak penggemar mancing. Sekedar untuk keasikan atau mengadu kepiawaian mengail ikan.
Di beberapa negara, tidak mudah untuk menekuni hobby memancing. Orang yang ingin memancing harus memiliki ijin (license). Di dalam kartu lisensi tertulis wilayah mana saja yang boleh dijadikan tempat memancing serta batasan jenis-jenis ikannya. Lucu ya. Menurutku, lisensi ini bagus buat perlindungan lingkungan. Dengan adanya lisensi, setiap orang tidak bebas memancing di tempat-tempat yang seharusnya dlindungi. Kalau di sini? hmmm...liat ada air menggenang sedikit aja kayaknya langsung ada orang mancing hahaha.Kalau ingin tahu tentang memancing, coba deh browsing situs-situs hobby memancing, baik berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Banyak penggemar (hobbyist) yang sudah membangun situs memancing. Dengan membaca informasinya, mungkin jadi ingin coba memancing. Apalagi kalau sudah mencoba sendiri, bisa jadi ketagihan hehe.
Hasil memancing? buat acara bakar-bakaran (barbeque) dengan keluarga...kebetulan malam minggu hehehe.
Kamis, 24 Desember 2009
Yuk Pakai Helm!
Kesadaran pengendara motor untuk memakai helm masih bisa dibilang rendah. Kalau di jalan-jalan protokol di Jakarta, pasti akan sulit, atau bahkan tidak ada, pengendara yang tidak memakai helm termasuk kakak, adik, teteh, aa, yayang, mama, papa, yang diboncengnya pun memakai helm. Ya iyaa laaah, daripada ditilang lebih baik pakai helm kan hehehe. Tapi, kalau agak kesonoan dikit dari jalan-jalan protokol, naaah banyak tuh yang "lupa" pakai helm.
Kalau dilakukan survey mengenai alasan memakai helm, mungkin sebagian besar pengendara memakai helm karena takut ditilang hehe. Artinya, kalau pengawasan tidak ketat, pastilah tukang-tukang helm tidak sebanyak sekarang. Kok jadi gitu kesimpulannya? hahaha. Maksudnya, sebagian besar orang tidak akan memakai helm saat mengendarai motor.
Kesadaran untuk memakai helm bukan semata-semata untuk mematuhi hukum. Karena hukum menetapkan kewajiban memakai helm maka kita memakainya. Lebih dari itu, helm adalah pelindung kepala yang artinya pelindung salah satu bagian ter-vital dari tubuh kita. Gangguan pada kepala, yang berisi syaraf dan organ terpenting kita, akan berakibat fatal.
Mengendarai motor lebih beresiko ketimbang mobil. Jika terjadi sesuatu, seperti terjatuh, tertabrak, atau menabrak, prosentase kemungkinan kontak langsung dengan tubuh kita lebih besar dibandingkan mengendarai mobil. Belum lagi karena cuaca. Kemungkinan pengendara motor harus kerokan lebih besar karena masuk angin...xixixi.
Jika sudah punya kesadaran mengenai pentingnya memakai helm untuk keselamatan diri, sekarang tinggal milih helmnya yang tepat. Percuma dong, udah sadar pakai helm untuk melindungi kepala tapi pake helm yang asal nangkring di kepala yang gak ada aspek melindunginya sama sekali. Atau, memakai helm yang memenuhi standar safety tapi memakainya asal-asalan, karena takut rambut lepek (apalagi yang punya rambut model punk xixi), sanggul copot, jilbab (kerudung) kusut, hasil hairspray ancur.
Di pasaran, banyak dijual bermacam-macam helm yang harganya juga bermacam-macam. Kalau mau membeli helm, minimal ingat-ingat:
- PERHATIKAN BENTUKNYA, apakah bisa melindungi seluruh bagian penting kepala?
- JANGAN PILIH YANG BAGIAN DEPANNYA TERTUTUP...ntar gak bisa liat ke depan dooong hahaha.
- PERIKSA KETEBALAN LAPISAN HELM, apakah sudah cukup melindungi dan nyaman?
- DAN....harus dicoba jangan sampai terlalu sempit atau longgar, HARUS PLEK NEMPEL DI BAGIAN KEPALA YANG TERTUTUPI.
- Pada saat mencoba helm, bagian kacanya langsung dicoba (ditutup) dan rasakan, JANGAN SAMPAI KACA HELM MEMILIKI EFEK TERTENTU YANG MENGGANGGU PANDANGAN. Misalnya, orang di depan nampak lebih dekat atau sebaliknya. Atau mungkin, cewek di depan nampak lebih cantik...bahaya itu!! ntar gak konsen nyetirnya karena nenek-nenek lewat aja diplototin karena jadi kelihatan seperti Jessica Alba.
Di pasar, ada helm yang berlabel standar SNI (Standar Nasional Indonesia) dan DOT (Department of Transport-nya Amerika). Terserah milih yang mana, yang penting apa bener tuh helm memenuhi standar-standar itu atau asal-asalan aja pake label standar biar dibeli. hehehe
Sekian dulu....Kali ini gak pake yooo mbuuh...xixi
Kalau dilakukan survey mengenai alasan memakai helm, mungkin sebagian besar pengendara memakai helm karena takut ditilang hehe. Artinya, kalau pengawasan tidak ketat, pastilah tukang-tukang helm tidak sebanyak sekarang. Kok jadi gitu kesimpulannya? hahaha. Maksudnya, sebagian besar orang tidak akan memakai helm saat mengendarai motor.
Kesadaran untuk memakai helm bukan semata-semata untuk mematuhi hukum. Karena hukum menetapkan kewajiban memakai helm maka kita memakainya. Lebih dari itu, helm adalah pelindung kepala yang artinya pelindung salah satu bagian ter-vital dari tubuh kita. Gangguan pada kepala, yang berisi syaraf dan organ terpenting kita, akan berakibat fatal.
Mengendarai motor lebih beresiko ketimbang mobil. Jika terjadi sesuatu, seperti terjatuh, tertabrak, atau menabrak, prosentase kemungkinan kontak langsung dengan tubuh kita lebih besar dibandingkan mengendarai mobil. Belum lagi karena cuaca. Kemungkinan pengendara motor harus kerokan lebih besar karena masuk angin...xixixi.
Jika sudah punya kesadaran mengenai pentingnya memakai helm untuk keselamatan diri, sekarang tinggal milih helmnya yang tepat. Percuma dong, udah sadar pakai helm untuk melindungi kepala tapi pake helm yang asal nangkring di kepala yang gak ada aspek melindunginya sama sekali. Atau, memakai helm yang memenuhi standar safety tapi memakainya asal-asalan, karena takut rambut lepek (apalagi yang punya rambut model punk xixi), sanggul copot, jilbab (kerudung) kusut, hasil hairspray ancur.
Di pasaran, banyak dijual bermacam-macam helm yang harganya juga bermacam-macam. Kalau mau membeli helm, minimal ingat-ingat:
- PERHATIKAN BENTUKNYA, apakah bisa melindungi seluruh bagian penting kepala?
- JANGAN PILIH YANG BAGIAN DEPANNYA TERTUTUP...ntar gak bisa liat ke depan dooong hahaha.
- PERIKSA KETEBALAN LAPISAN HELM, apakah sudah cukup melindungi dan nyaman?
- DAN....harus dicoba jangan sampai terlalu sempit atau longgar, HARUS PLEK NEMPEL DI BAGIAN KEPALA YANG TERTUTUPI.
- Pada saat mencoba helm, bagian kacanya langsung dicoba (ditutup) dan rasakan, JANGAN SAMPAI KACA HELM MEMILIKI EFEK TERTENTU YANG MENGGANGGU PANDANGAN. Misalnya, orang di depan nampak lebih dekat atau sebaliknya. Atau mungkin, cewek di depan nampak lebih cantik...bahaya itu!! ntar gak konsen nyetirnya karena nenek-nenek lewat aja diplototin karena jadi kelihatan seperti Jessica Alba.
Di pasar, ada helm yang berlabel standar SNI (Standar Nasional Indonesia) dan DOT (Department of Transport-nya Amerika). Terserah milih yang mana, yang penting apa bener tuh helm memenuhi standar-standar itu atau asal-asalan aja pake label standar biar dibeli. hehehe
Sekian dulu....Kali ini gak pake yooo mbuuh...xixi
Labels:
biker,
DOT,
helm,
helmet,
hukum,
keselamatan,
lalu lintas,
polisi,
safety,
SNI,
tips memilih helm
Rabu, 23 Desember 2009
Pengelolaan Kereta Api
Ssstt...tarif kereta api ekonomi bakal naik lagi!!! Di berita koran yang kubaca, kenaikan tarifnya hingga 50% yang akan dilaksanakan dalam empat semester mulai Juli 2010 sebesar 12,5%. Artinya kenaikan tarif 50% baru akan terjadi pada Januari 2012. Alasan kenaikan tarif itu adalah untuk mengurangi kerugian yang selama ini diderita oleh PT KA.
Memang sih, pengelolaan kereta api ini lumayan ribet. PT KA, sebagai badan usaha milik negara, selain diberi beban untuk meraup keuntungan juga dibebani kewajiban pelayanan publik (Public Service Obligation/PSO).PSO hampir sama dengan subsidi tapi berbeda dalam pengertian, mekanisme penyaluran dan penerimanya.PSO adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh negara akibat disparitas/perbedaan harga pokok penjualan BUMN/swasta dengan harga atas produk/jasa tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah agar pelayanan produk/jasa tetap terjamin dan terjangkau oleh sebagian besar masyarakat (publik). Gampang-nya, PT KA diwajibkan memberikan pelayanan jasa transportasi kereta api kepada masyarakat secara baik dengan harga yang terjangkau. Bagi perusahaan manapun, kewajiban ini tidak mungkin dilaksanakan tanpa adanya kompensasi karena tingkat harga yang ditetapkan dalam kategori "terjangkau oleh masyarakat" biasanya lebih rendah dari tingkat harga pasar. Nah, uang yang dikucurkan pemerintah dalam mekanisme PSO inilah kompensasi untuk menutupi perbedaan harga itu.
Adanya pernyataan rugi, artinya kan pemasukan yang diterima PT. KA lebih sedikit dari biaya dan ongkos pelayanan yang dikeluarkan. Lebih jauh, jumlah kompensasi PSO yang diberikan pemerintah kepada PT. KA tidak mencukupi dibandingkan apabila PT. KA menetapkan harga jual pelayanannya sesuai harga pasar. Solusinya? Menurut berita itu hanya ada dua: 1)menaikkan PSO, atau 2)menaikkan tarif. Berhubung nampaknya pemerintah tidak akan menaikkan PSO, jadi opsi menaikkan tarif yang dipilih.
Apa bener cuma dua itu solusinya? Mungkin iya (males ah mikir alternatif solusi yang lain...hehehe).
Sekedar memberi inspirasi aja, kalau diperhatikan setiap hari kereta ekonomi mondar-mandir selalu penuh. Kata penuh sebenarnya kurang tepat karena penuh juga bisa berarti sesuai kapasitas. Yang kita lihat adalah bukan lagi penuh, tapi sudah over capacity. Dengan perhitungan harga pasar, aku yakin ada perhitungan tersendiri berapa modal yang dikeluarkan setiap kereta api berjalan sehingga ada target jumlah penumpang tertentu yang harus dicapai untuk menutupi modal atau mereguk keuntungan. Rasanya gak mungkin jumlah penumpang yang ditargetkan dalam setiap kali perjalanan adalah se"luber" seperti yang selalu kita lihat. Kalau memang sebanyak itu targetnya, weleeeh...itu namanya pelayanan prima a la apa? hehehe. Jumlah penumpang yang duduk dan berdiri dalam satu gerbong biasanya tertulis kok di bagian atas pintu penghubung antar gerbong.
Kalau dihubungkan dengan PSO, dari perhitungan dengan harga pasar kan kelihatan berapa persen PSO yang diberikan pemerintah mampu menutupi kerugian yang diderita. Dengan jumlah PSO yang kurang memadai, memang pilihannya menaikkan tarif atau menambah jumlah penumpang. Kalau nambah jumlah penumpang...hehehe...makin jadi ikan asin dong penumpang-penumpang di dalam keretanya. Logika bahwa menaikkan tarif adalah konsekuensi logis jika pelayanan ingin dipertahankan, untuk hal ini ok laah.
TAPI....aku punya pertanyaan lucu-lucuan. Apakah penumpang yang sebejibun itu semuanya membayar tiket? Aku sangat yakin tidak (bukan berarti aku tukang gratisan naek kereta loh hahaha). Apakah tiket yang disediakan PT KA mampu memenuhi kebutuhan tiket seluruh penumpang yang ikut dalam setiap kali perjalanan kereta? Kalau mengacu pada pelayanan, mestinya jumlah tiket yang disediakan adalah sesuai kapasitas gerbong dong. Becul cidak? :D Kalau memang tiket yang tersedia sesuai kapasitas, berarti dalam kondisi kereta luber, sebagian penumpang diiklaskan untuk tidak membayar tiket dong. Atau, apakah keadaan sesak begitu adalah memang sesuai kapasitas gerbong?
Kondisi over capacity memperpendek usia gerbong dan menambah biaya perawatan. Kalau sebagian penumpang nggak beli tiket, ya pasti rugi hehehe. Naaah sampe situ aja pertanyaan-pertanyaannya. Kalau mau nambah pertanyaan silahkan hehehe. Yang penting bukan aku yang jawab.
Dari pengamatanku, langkah yang paling tepat diambil saat ini adalah berinvestasi untuk menata sistem agar setiap penumpang yang menggunakan jasa kereta api membayar tiket. Caranya? Lagi-lagi bukan dengan memasang banner gede bertulisan "HARI GINI NGGAK BELI TIKET? APA KATA DUNIA!" hihihi. Di banyak stasiun aku perhatikan "pernah" ada upaya untuk itu, yaitu antara lain memasang alat kontrol tiket elektronik di pintu masuk ke peron tapi belum pernah liat alat ini digunakan. Fungsi alat kontrol ini digantikan oleh petugas-petugas keamanan hehehe. Dengan sistem seperti itu, tetap saja banyak kan yang tidak beli tiket? Menurutku, tiket akan terkontrol dengan baik kalau semua stasiun sudah benar-benar tertutup. Artinya, akses masuk ke stasiun dan ke peron benar-benar terkontrol. Kebanyakan di stasiun sekarang, orang masih bisa masuk ke peron dari segala arah mata angin :D. Selain kerugian bagi PT KA, kondisi ini menjadikan stasiun rawan dan kenyamanan dan keamanan bagi calon penumpang di stasiun menjadi tidak terjamin.
Setelah sistem ini berjalan dan pelayanan prima, kalau masih juga rugi...baru naik tarif. hehehe. Yoooo mbuuuh laah...
Memang sih, pengelolaan kereta api ini lumayan ribet. PT KA, sebagai badan usaha milik negara, selain diberi beban untuk meraup keuntungan juga dibebani kewajiban pelayanan publik (Public Service Obligation/PSO).PSO hampir sama dengan subsidi tapi berbeda dalam pengertian, mekanisme penyaluran dan penerimanya.PSO adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh negara akibat disparitas/perbedaan harga pokok penjualan BUMN/swasta dengan harga atas produk/jasa tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah agar pelayanan produk/jasa tetap terjamin dan terjangkau oleh sebagian besar masyarakat (publik). Gampang-nya, PT KA diwajibkan memberikan pelayanan jasa transportasi kereta api kepada masyarakat secara baik dengan harga yang terjangkau. Bagi perusahaan manapun, kewajiban ini tidak mungkin dilaksanakan tanpa adanya kompensasi karena tingkat harga yang ditetapkan dalam kategori "terjangkau oleh masyarakat" biasanya lebih rendah dari tingkat harga pasar. Nah, uang yang dikucurkan pemerintah dalam mekanisme PSO inilah kompensasi untuk menutupi perbedaan harga itu.
Adanya pernyataan rugi, artinya kan pemasukan yang diterima PT. KA lebih sedikit dari biaya dan ongkos pelayanan yang dikeluarkan. Lebih jauh, jumlah kompensasi PSO yang diberikan pemerintah kepada PT. KA tidak mencukupi dibandingkan apabila PT. KA menetapkan harga jual pelayanannya sesuai harga pasar. Solusinya? Menurut berita itu hanya ada dua: 1)menaikkan PSO, atau 2)menaikkan tarif. Berhubung nampaknya pemerintah tidak akan menaikkan PSO, jadi opsi menaikkan tarif yang dipilih.
Apa bener cuma dua itu solusinya? Mungkin iya (males ah mikir alternatif solusi yang lain...hehehe).
Sekedar memberi inspirasi aja, kalau diperhatikan setiap hari kereta ekonomi mondar-mandir selalu penuh. Kata penuh sebenarnya kurang tepat karena penuh juga bisa berarti sesuai kapasitas. Yang kita lihat adalah bukan lagi penuh, tapi sudah over capacity. Dengan perhitungan harga pasar, aku yakin ada perhitungan tersendiri berapa modal yang dikeluarkan setiap kereta api berjalan sehingga ada target jumlah penumpang tertentu yang harus dicapai untuk menutupi modal atau mereguk keuntungan. Rasanya gak mungkin jumlah penumpang yang ditargetkan dalam setiap kali perjalanan adalah se"luber" seperti yang selalu kita lihat. Kalau memang sebanyak itu targetnya, weleeeh...itu namanya pelayanan prima a la apa? hehehe. Jumlah penumpang yang duduk dan berdiri dalam satu gerbong biasanya tertulis kok di bagian atas pintu penghubung antar gerbong.
Kalau dihubungkan dengan PSO, dari perhitungan dengan harga pasar kan kelihatan berapa persen PSO yang diberikan pemerintah mampu menutupi kerugian yang diderita. Dengan jumlah PSO yang kurang memadai, memang pilihannya menaikkan tarif atau menambah jumlah penumpang. Kalau nambah jumlah penumpang...hehehe...makin jadi ikan asin dong penumpang-penumpang di dalam keretanya. Logika bahwa menaikkan tarif adalah konsekuensi logis jika pelayanan ingin dipertahankan, untuk hal ini ok laah.
TAPI....aku punya pertanyaan lucu-lucuan. Apakah penumpang yang sebejibun itu semuanya membayar tiket? Aku sangat yakin tidak (bukan berarti aku tukang gratisan naek kereta loh hahaha). Apakah tiket yang disediakan PT KA mampu memenuhi kebutuhan tiket seluruh penumpang yang ikut dalam setiap kali perjalanan kereta? Kalau mengacu pada pelayanan, mestinya jumlah tiket yang disediakan adalah sesuai kapasitas gerbong dong. Becul cidak? :D Kalau memang tiket yang tersedia sesuai kapasitas, berarti dalam kondisi kereta luber, sebagian penumpang diiklaskan untuk tidak membayar tiket dong. Atau, apakah keadaan sesak begitu adalah memang sesuai kapasitas gerbong?
Kondisi over capacity memperpendek usia gerbong dan menambah biaya perawatan. Kalau sebagian penumpang nggak beli tiket, ya pasti rugi hehehe. Naaah sampe situ aja pertanyaan-pertanyaannya. Kalau mau nambah pertanyaan silahkan hehehe. Yang penting bukan aku yang jawab.
Dari pengamatanku, langkah yang paling tepat diambil saat ini adalah berinvestasi untuk menata sistem agar setiap penumpang yang menggunakan jasa kereta api membayar tiket. Caranya? Lagi-lagi bukan dengan memasang banner gede bertulisan "HARI GINI NGGAK BELI TIKET? APA KATA DUNIA!" hihihi. Di banyak stasiun aku perhatikan "pernah" ada upaya untuk itu, yaitu antara lain memasang alat kontrol tiket elektronik di pintu masuk ke peron tapi belum pernah liat alat ini digunakan. Fungsi alat kontrol ini digantikan oleh petugas-petugas keamanan hehehe. Dengan sistem seperti itu, tetap saja banyak kan yang tidak beli tiket? Menurutku, tiket akan terkontrol dengan baik kalau semua stasiun sudah benar-benar tertutup. Artinya, akses masuk ke stasiun dan ke peron benar-benar terkontrol. Kebanyakan di stasiun sekarang, orang masih bisa masuk ke peron dari segala arah mata angin :D. Selain kerugian bagi PT KA, kondisi ini menjadikan stasiun rawan dan kenyamanan dan keamanan bagi calon penumpang di stasiun menjadi tidak terjamin.
Setelah sistem ini berjalan dan pelayanan prima, kalau masih juga rugi...baru naik tarif. hehehe. Yoooo mbuuuh laah...
Selasa, 22 Desember 2009
Pencitraan: Belajar dari Kasus Prita
Ada yang menarik ketika aku ngobrol tentang marketing dan pencitraan (image building) dengan kakak ipar saat long weekend lalu di kediaman seorang paman yang sedang menyelenggarakan hajat syukuran kehamilan sepupu kami. Di tengah pembicaraan, paman, yang seorang dokter, menyela, "Kalau ingin tantangan marketing, masuk tuh ke omni (RS Omni maksudnya. Sekarang sudah hancur lebur image-nya". Aku cuma nyengir dan mengerti bahwa badan usaha jasa kesehatan itu sekarang memiliki image yang kurang baik akibat kasus tuntutan pencemaran baik kepada Prita Mulyasari yang sampai sekarang belum kelar juga.
Semua orang mengerti bahwa kasus tersebut berawal dari keluhan Prita yang dikecewakan oleh pelayanan yang diterimanya saat berobat ke RS Omni.Prita menuliskan dan mengirimkan keluhannya itu kepada teman-temannya melalui email. Dengan cepat, email yang ditujukan Prita kepada teman-temannya menyebar luas yang berujung pada tuntutan RS Omni kepada Prita dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Kasus Prita memberi gambaran betapa sebuah perusahaan membangun dan menjaga pencitraan yang baik dengan tujuan keuntungan usaha. Tapi, apa yang terjadi dalam kasus ini justru kontraproduktif bagi RS Omni. Usaha keras RS Omni menjaga citra badan usaha itu dengan menuntut Prita dengan tuduhan pencemaran nama baik justru merusak citra yang selama ini telah susah payah dibangun. Penyebabnya sederhana saja, tuntutan RS Omni dan proses hukum yang ditempuhnya berlawanan dengan rasa keadilan masyarakat sehingga simpati yang besar justru mengalir untuk Prita, bukan untuk RS Omni.Kenapa? Apa yang dilakukan Prita adalah berdasarkan pengalamannya menerima pelayanan di RS itu, bukan semata-mata tuduhan walaupun kita tidak tahu sejauhmana kebenaran dari keburukan pelayanan yang diterima Prita.
Prita dan masyarakat luas lainnya adalah konsumen. Konsumen berhak menerima yang terbaik dari setiap rupiah yang dikeluarkannya. Masyarakat mungkin beranggapan, "konsumen complain kok dituntut sih?" Reaksi RS Omni terhadap keluhan Prita yang berlebihan telah membangun citra buruk masyarakat terhadap penyedia jasa kesehatan itu. Apabila ditanggapi dengan lebih arif mungkin tidak akan berkembang seperti sekarang.
Pencitraan yang kita bangun itu kan sasarannya bukan diri kita, tetapi sekitar kita. Bagaimana orang lain melihat kita, itulah citra kita. Citra itu adalah tampakan luar kita karena itulah kesan yang paling cepat ditangkap melalui indera. Seseorang yang sangat baik dan lemah lembut tidak akan terlihat dan terkesan begitu jika ia berpenampilan luar seperti seorang bandit yang keras dan berangasan. "DON'T JUDGE A BOOK BY ITS COVER" jadi pembenaran bahwa yang terpenting adalah isi, bukan kulitnya. Padahal dalam memasarkan produk, kemasan jadi sama pentingnya dengan produk itu sendiri. Dalam beberapa kasus terkadang justru lebih penting. Sudah tentu, konsumen tidak akan mengeluarkan uangnya untuk sesuatu yang tidak jelas manfaat dan kualitasnya.
Lalu bagaimana RS Omni mengembalikan kepercayaan masyarakat konsumennya? yooo mbuuuhhh....hehehe. Banyak konsultan dan ahli marketing yang bisa di-hired untuk itu hehehe.
Semua orang mengerti bahwa kasus tersebut berawal dari keluhan Prita yang dikecewakan oleh pelayanan yang diterimanya saat berobat ke RS Omni.Prita menuliskan dan mengirimkan keluhannya itu kepada teman-temannya melalui email. Dengan cepat, email yang ditujukan Prita kepada teman-temannya menyebar luas yang berujung pada tuntutan RS Omni kepada Prita dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Kasus Prita memberi gambaran betapa sebuah perusahaan membangun dan menjaga pencitraan yang baik dengan tujuan keuntungan usaha. Tapi, apa yang terjadi dalam kasus ini justru kontraproduktif bagi RS Omni. Usaha keras RS Omni menjaga citra badan usaha itu dengan menuntut Prita dengan tuduhan pencemaran nama baik justru merusak citra yang selama ini telah susah payah dibangun. Penyebabnya sederhana saja, tuntutan RS Omni dan proses hukum yang ditempuhnya berlawanan dengan rasa keadilan masyarakat sehingga simpati yang besar justru mengalir untuk Prita, bukan untuk RS Omni.Kenapa? Apa yang dilakukan Prita adalah berdasarkan pengalamannya menerima pelayanan di RS itu, bukan semata-mata tuduhan walaupun kita tidak tahu sejauhmana kebenaran dari keburukan pelayanan yang diterima Prita.
Prita dan masyarakat luas lainnya adalah konsumen. Konsumen berhak menerima yang terbaik dari setiap rupiah yang dikeluarkannya. Masyarakat mungkin beranggapan, "konsumen complain kok dituntut sih?" Reaksi RS Omni terhadap keluhan Prita yang berlebihan telah membangun citra buruk masyarakat terhadap penyedia jasa kesehatan itu. Apabila ditanggapi dengan lebih arif mungkin tidak akan berkembang seperti sekarang.
Pencitraan yang kita bangun itu kan sasarannya bukan diri kita, tetapi sekitar kita. Bagaimana orang lain melihat kita, itulah citra kita. Citra itu adalah tampakan luar kita karena itulah kesan yang paling cepat ditangkap melalui indera. Seseorang yang sangat baik dan lemah lembut tidak akan terlihat dan terkesan begitu jika ia berpenampilan luar seperti seorang bandit yang keras dan berangasan. "DON'T JUDGE A BOOK BY ITS COVER" jadi pembenaran bahwa yang terpenting adalah isi, bukan kulitnya. Padahal dalam memasarkan produk, kemasan jadi sama pentingnya dengan produk itu sendiri. Dalam beberapa kasus terkadang justru lebih penting. Sudah tentu, konsumen tidak akan mengeluarkan uangnya untuk sesuatu yang tidak jelas manfaat dan kualitasnya.
Lalu bagaimana RS Omni mengembalikan kepercayaan masyarakat konsumennya? yooo mbuuuhhh....hehehe. Banyak konsultan dan ahli marketing yang bisa di-hired untuk itu hehehe.
Senin, 21 Desember 2009
Ketertiban Lalu Lintas
Gue adalah pemakai jalan yang sehari-hari mondar-mandir dari rumah ke kantor pagi hari dan sebaliknya pada sore atau malam hari. Mengendarai motor dari rumah ke kantor memang menyenangkan walaupun kadang badan pegal-pegal, karena sekaligus juga menghemat ongkos transportasi dari rumah ke tempat kerja yang memang tidak termasuk dalam tunjangan penghasilan dari kantor..hihi.
Keluhan utama gue selama mengendarai motor mungkin sama dengan kebanyakan bikers atau car drivers yaitu kondisi lalu lintas yang semrawut. Soal ini, lucunya antara bikers dan car drivers pasti saling menyalahkan hehehe. Masing-masing menyalahkan yang lain sebagai sumber kemacetan dan kesemrawutan.
Kalau dipikir-pikir, semua rambu lalu lintas terpasang dan jelas tapi kenapa masih semrawut ya? Jumlah kendaraan yang sudah kelewat banyak juga bukan alasan untuk jadi semrawut. Dengan jumlah yang banyak mestinya masih bisa teratur kan?
Sumber dari segala sumber kesemrawutan itu kalau gue perhatikan adalah kelakuan para pengendaranya. Kadang gue gak habis pikir, "apa yang ada dalam pikiran mereka ya?" Apakah tuntutan untuk tiba di kantor tepat waktu dan tiba di rumah sesegera mungkin menjadi penyebab perilaku lalu lintasnya jadi seperti itu? Maen serobot, melanggar hak orang lain (pakai jalur berlawanan, naik ke pedestrian, dll), kurang sabar dan mudah emosi..klakson tiiin tiiin...ngoook, dan macem-macem lagi. Dengan perilaku yang seperti itu membuat kondisi jalan yang sudah padat makin jadi tidak keruan dan tidak bergerak (lebih parah dari macet hehe)dan akhirnya tetap terlambat sampai kantor atau rumah.
Selain alasan tadi, perilaku "ajaib" pengendara juga antara lain sepertinya disebabkan oleh tidak berwibawanya hukum. Hukum yang dimaksud ini bukan undang-undangnya, tapi pelaksanaannya, yang menyangkut pelaksana dan cara melaksanakannya. Yang menjadi pelaksananya, "Bapak Pulisi", harusnya benar-benar tegas. Gue sering amati kekurangtegasan petugas di jalanan, atau tepatnya beliau-beliau menyerah karena lalu lintas sudah tidak bisa lagi dikendalikan hehehe. Kalau satu atau dua kendaraan mungkin masih bisa diperingati atau sekalian ditilang. Nah kalau yang melanggar itu berjamaah? hehehe. Mestinya ditindak juga sih. Menyangkut cara melaksanakannya, banyak sekali faktornya. Mulai dari bagaimana mengatur arus (flow) lalu lintas, pemasangan rambu-rambu dan marka jalan, termasuk pengeluaran ijin mengendarai,dan banyak lagi. Semua detailnya ada di UU Lalu Lintas dan harus tersedia dengan lengkap.
Gue belum tahu apakah sudah pernah ada survey mengenai pengetahuan, baik petugas maupun pengguna, mengenai bagaimana perilaku berlalu lintas. Gak sekedar tahu ada UU lalu lintas, tapi yang penting pemahaman, yang pada tingkat tertentu bisa jadi gambaran kesadaran kita semua mengenai bagaimana seharusnya kita berperilaku dalam berlalu lintas. Menurut gue, pemahaman dan kesadaran ini lebih penting daripada mengatur jalanan dengan menerapkan 3 in 1 dan pembatasan-pembatasan lainnya. Kalau semua yang berada di lalu lintas paham apa hak dan kewajibannya, kayaknya semua masalah lalu lintas bisa teratasi hehehe.
Gimana cara membangun pemahaman dan kesadaran berlalu lintas masyarakat? yooo mbuuuuhhhh....hehehe. Yang jelas bukan dengan memasang spanduk/banner "gede" bertulisan "HARI GINI MASIH MELANGGAR LALU LINTAS?? APA KATA DUNIA!!" hihihihi
Keluhan utama gue selama mengendarai motor mungkin sama dengan kebanyakan bikers atau car drivers yaitu kondisi lalu lintas yang semrawut. Soal ini, lucunya antara bikers dan car drivers pasti saling menyalahkan hehehe. Masing-masing menyalahkan yang lain sebagai sumber kemacetan dan kesemrawutan.
Kalau dipikir-pikir, semua rambu lalu lintas terpasang dan jelas tapi kenapa masih semrawut ya? Jumlah kendaraan yang sudah kelewat banyak juga bukan alasan untuk jadi semrawut. Dengan jumlah yang banyak mestinya masih bisa teratur kan?
Sumber dari segala sumber kesemrawutan itu kalau gue perhatikan adalah kelakuan para pengendaranya. Kadang gue gak habis pikir, "apa yang ada dalam pikiran mereka ya?" Apakah tuntutan untuk tiba di kantor tepat waktu dan tiba di rumah sesegera mungkin menjadi penyebab perilaku lalu lintasnya jadi seperti itu? Maen serobot, melanggar hak orang lain (pakai jalur berlawanan, naik ke pedestrian, dll), kurang sabar dan mudah emosi..klakson tiiin tiiin...ngoook, dan macem-macem lagi. Dengan perilaku yang seperti itu membuat kondisi jalan yang sudah padat makin jadi tidak keruan dan tidak bergerak (lebih parah dari macet hehe)dan akhirnya tetap terlambat sampai kantor atau rumah.
Selain alasan tadi, perilaku "ajaib" pengendara juga antara lain sepertinya disebabkan oleh tidak berwibawanya hukum. Hukum yang dimaksud ini bukan undang-undangnya, tapi pelaksanaannya, yang menyangkut pelaksana dan cara melaksanakannya. Yang menjadi pelaksananya, "Bapak Pulisi", harusnya benar-benar tegas. Gue sering amati kekurangtegasan petugas di jalanan, atau tepatnya beliau-beliau menyerah karena lalu lintas sudah tidak bisa lagi dikendalikan hehehe. Kalau satu atau dua kendaraan mungkin masih bisa diperingati atau sekalian ditilang. Nah kalau yang melanggar itu berjamaah? hehehe. Mestinya ditindak juga sih. Menyangkut cara melaksanakannya, banyak sekali faktornya. Mulai dari bagaimana mengatur arus (flow) lalu lintas, pemasangan rambu-rambu dan marka jalan, termasuk pengeluaran ijin mengendarai,dan banyak lagi. Semua detailnya ada di UU Lalu Lintas dan harus tersedia dengan lengkap.
Gue belum tahu apakah sudah pernah ada survey mengenai pengetahuan, baik petugas maupun pengguna, mengenai bagaimana perilaku berlalu lintas. Gak sekedar tahu ada UU lalu lintas, tapi yang penting pemahaman, yang pada tingkat tertentu bisa jadi gambaran kesadaran kita semua mengenai bagaimana seharusnya kita berperilaku dalam berlalu lintas. Menurut gue, pemahaman dan kesadaran ini lebih penting daripada mengatur jalanan dengan menerapkan 3 in 1 dan pembatasan-pembatasan lainnya. Kalau semua yang berada di lalu lintas paham apa hak dan kewajibannya, kayaknya semua masalah lalu lintas bisa teratasi hehehe.
Gimana cara membangun pemahaman dan kesadaran berlalu lintas masyarakat? yooo mbuuuuhhhh....hehehe. Yang jelas bukan dengan memasang spanduk/banner "gede" bertulisan "HARI GINI MASIH MELANGGAR LALU LINTAS?? APA KATA DUNIA!!" hihihihi
Labels:
biker,
lalu lintas,
motivasi,
perilaku,
rambu lalu lintas
Informasi Bermanfaat
Cape rasanya mengikuti apa yang terjadi di negara ini setiap harinya. Peristiwa demi peristiwa dalam berita, ulasan, sampai infotainment pun isinya hanya membuat gw miris. Dengan segala ketakjuban, gw cuma bisa bilang "kok bisa ya?"
Mungkin keseharian gw yang tidak terekspos ke dunia yang sedang dijalani para politikus, pejabat-pejabat tinggi, artis-artis, dan selebritas lainnya sehingga pernyataan keheranan itu aja yang bisa keluar sambil menganalisis secara sederhana tiap-tiap penyebab dari rangkaian pemberitaan peristiwanya. Mungkin...kalau pada akhirnya gw terekspos ke dalam dunia itu suatu saat, seperti itulah nantinya perilaku gw...hmm...weleeeh...masa sih? hehe. Selebritas yang selalu jadi bahan berita, selalu mendapat sorotan media seharusnya bisa jadi inspirasi bagi banyak orang secara positif kan ya. Ini malah aneh-aneh...mulai dari pejabat korupsi, artis kawin cerai, dan komentar-komentar kurang berdasar cenderung fitnah....weleeeh. Parahnya lagi...selebritas yang sudah "ditelanjangi" perilaku negatifnya itu juga dimintai pendapat atau pikirannya oleh media informasi untuk suatu event tertentu misalnya makna kemerdekaan ketika 17 Agustus, ibadah puasa ketika bulan ramadhan....ealaaaahhh. Tentu...semua orang berhak memberi pendapat...tapi ini kan dipublish dan didengar oleh semua orang.
Itu cuma bagian kecil dari contoh unek-unek gw aja hehehe. Unek-unek yang "gede"nya gini...
Era kebebasan informasi sekarang semakin menambah dampak buruknya kalau sebuah informasi tidak bisa menjadi inspirasi yang baik, terlepas itu informasi mengenai hal baik ataupun buruk. Tak terbayang bagaimana dampak buruk sebuah informasi itu begitu luas, karena "penikmat" nya tidak terbatas daerah dan segmennya di negara ini. Mulai dari anak-anak TK sampai kakek nenek di kota dan daerah-daerah terjauh sekalipun....kalau punya TV hehehe. Ditambah lagi, era informasi ini juga menuntut keterhubungan melalui media informasi lainnya yang lebih canggih dengan updating per detik bernama internet. Sekarang memang masih terbatas aksesnya, tapi bukan tidak mungkin suatu saat nanti setiap orang di negara ini punya akses ke internet. Melalui internet, disastrous impact-nya makin besar. Gak cuma lelucon para selebritas aja yg bisa di lihat tapi semua yang "indah-indah" yang ada dimuka bumi ini ada di dalamnya hehehe.
Menyaksikan apa yang terjadi, kadang membuat gw frustasi akan apa yang akan terjadi besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan terhadap negara ini. Bukan karena gw ikut mikirin negara, tapi karena gw dan keluarga gw hidup di dalam negara ini hehehe. Apapun itu, sekecil apapun selalu akan ada dampaknya bagi setiap individu yang hidup di negara ini. Contoh kecilnya, ketika suatu pemberitaan peristiwa terjadi, kita terus berfikir dan walaupun yang keluar cuma "kok bisa ya?" hehe itu artinya kita sudah terkena dampaknya. Padahal, menurut gw masih banyak masalah lain yang perlu diketahui dari hanya sekedar menyaksikan skandal-skandal dan ketidakberesan yang bikin frustasi.
Menuntut setiap orang menjaga diri dan keluarganya dari dampak buruk setiap hal negatif dari media informasi memang betul dan perlu. Tapi...apa kita tidak bisa ya menikmati informasi itu tanpa harus pusing mikir mana yang baik dan mana yang buruk untuk diikuti karena semuanya sudah tersaji dengan baik (bukan hanya menarik apalagi bombastis)? Membatasi informasi mana saja yang perlu disampaikan kepada masyarakat berarti membatasi kebebasan informasi, jadi kalau tidak bisa dibatasi setiap informasi itu seharusnya dikemas baik sehingga mendidik dan terasa manfaatnya. Gimana sih kemasan yang baik itu? yoo mbuuuhhh.....hehehe. Kalau informasi internet....hmmm lebih gak tau lagi gimana, karena kayaknya memang perlu dibatasi. Mau dikemas gimana lagi? hehehe. Gambar-gambar hot dikemas baik ya makin hot kali hahahaha.
Itu menurut gw...gak tau deh menurut para pakar informasi...hehe.
Mungkin keseharian gw yang tidak terekspos ke dunia yang sedang dijalani para politikus, pejabat-pejabat tinggi, artis-artis, dan selebritas lainnya sehingga pernyataan keheranan itu aja yang bisa keluar sambil menganalisis secara sederhana tiap-tiap penyebab dari rangkaian pemberitaan peristiwanya. Mungkin...kalau pada akhirnya gw terekspos ke dalam dunia itu suatu saat, seperti itulah nantinya perilaku gw...hmm...weleeeh...masa sih? hehe. Selebritas yang selalu jadi bahan berita, selalu mendapat sorotan media seharusnya bisa jadi inspirasi bagi banyak orang secara positif kan ya. Ini malah aneh-aneh...mulai dari pejabat korupsi, artis kawin cerai, dan komentar-komentar kurang berdasar cenderung fitnah....weleeeh. Parahnya lagi...selebritas yang sudah "ditelanjangi" perilaku negatifnya itu juga dimintai pendapat atau pikirannya oleh media informasi untuk suatu event tertentu misalnya makna kemerdekaan ketika 17 Agustus, ibadah puasa ketika bulan ramadhan....ealaaaahhh. Tentu...semua orang berhak memberi pendapat...tapi ini kan dipublish dan didengar oleh semua orang.
Itu cuma bagian kecil dari contoh unek-unek gw aja hehehe. Unek-unek yang "gede"nya gini...
Era kebebasan informasi sekarang semakin menambah dampak buruknya kalau sebuah informasi tidak bisa menjadi inspirasi yang baik, terlepas itu informasi mengenai hal baik ataupun buruk. Tak terbayang bagaimana dampak buruk sebuah informasi itu begitu luas, karena "penikmat" nya tidak terbatas daerah dan segmennya di negara ini. Mulai dari anak-anak TK sampai kakek nenek di kota dan daerah-daerah terjauh sekalipun....kalau punya TV hehehe. Ditambah lagi, era informasi ini juga menuntut keterhubungan melalui media informasi lainnya yang lebih canggih dengan updating per detik bernama internet. Sekarang memang masih terbatas aksesnya, tapi bukan tidak mungkin suatu saat nanti setiap orang di negara ini punya akses ke internet. Melalui internet, disastrous impact-nya makin besar. Gak cuma lelucon para selebritas aja yg bisa di lihat tapi semua yang "indah-indah" yang ada dimuka bumi ini ada di dalamnya hehehe.
Menyaksikan apa yang terjadi, kadang membuat gw frustasi akan apa yang akan terjadi besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan terhadap negara ini. Bukan karena gw ikut mikirin negara, tapi karena gw dan keluarga gw hidup di dalam negara ini hehehe. Apapun itu, sekecil apapun selalu akan ada dampaknya bagi setiap individu yang hidup di negara ini. Contoh kecilnya, ketika suatu pemberitaan peristiwa terjadi, kita terus berfikir dan walaupun yang keluar cuma "kok bisa ya?" hehe itu artinya kita sudah terkena dampaknya. Padahal, menurut gw masih banyak masalah lain yang perlu diketahui dari hanya sekedar menyaksikan skandal-skandal dan ketidakberesan yang bikin frustasi.
Menuntut setiap orang menjaga diri dan keluarganya dari dampak buruk setiap hal negatif dari media informasi memang betul dan perlu. Tapi...apa kita tidak bisa ya menikmati informasi itu tanpa harus pusing mikir mana yang baik dan mana yang buruk untuk diikuti karena semuanya sudah tersaji dengan baik (bukan hanya menarik apalagi bombastis)? Membatasi informasi mana saja yang perlu disampaikan kepada masyarakat berarti membatasi kebebasan informasi, jadi kalau tidak bisa dibatasi setiap informasi itu seharusnya dikemas baik sehingga mendidik dan terasa manfaatnya. Gimana sih kemasan yang baik itu? yoo mbuuuhhh.....hehehe. Kalau informasi internet....hmmm lebih gak tau lagi gimana, karena kayaknya memang perlu dibatasi. Mau dikemas gimana lagi? hehehe. Gambar-gambar hot dikemas baik ya makin hot kali hahahaha.
Itu menurut gw...gak tau deh menurut para pakar informasi...hehe.
Labels:
bermanfaat,
informasi,
media,
motivasi,
selebritis
Langganan:
Komentar (Atom)