Ssstt...tarif kereta api ekonomi bakal naik lagi!!! Di berita koran yang kubaca, kenaikan tarifnya hingga 50% yang akan dilaksanakan dalam empat semester mulai Juli 2010 sebesar 12,5%. Artinya kenaikan tarif 50% baru akan terjadi pada Januari 2012. Alasan kenaikan tarif itu adalah untuk mengurangi kerugian yang selama ini diderita oleh PT KA.
Memang sih, pengelolaan kereta api ini lumayan ribet. PT KA, sebagai badan usaha milik negara, selain diberi beban untuk meraup keuntungan juga dibebani kewajiban pelayanan publik (Public Service Obligation/PSO).PSO hampir sama dengan subsidi tapi berbeda dalam pengertian, mekanisme penyaluran dan penerimanya.PSO adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh negara akibat disparitas/perbedaan harga pokok penjualan BUMN/swasta dengan harga atas produk/jasa tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah agar pelayanan produk/jasa tetap terjamin dan terjangkau oleh sebagian besar masyarakat (publik). Gampang-nya, PT KA diwajibkan memberikan pelayanan jasa transportasi kereta api kepada masyarakat secara baik dengan harga yang terjangkau. Bagi perusahaan manapun, kewajiban ini tidak mungkin dilaksanakan tanpa adanya kompensasi karena tingkat harga yang ditetapkan dalam kategori "terjangkau oleh masyarakat" biasanya lebih rendah dari tingkat harga pasar. Nah, uang yang dikucurkan pemerintah dalam mekanisme PSO inilah kompensasi untuk menutupi perbedaan harga itu.
Adanya pernyataan rugi, artinya kan pemasukan yang diterima PT. KA lebih sedikit dari biaya dan ongkos pelayanan yang dikeluarkan. Lebih jauh, jumlah kompensasi PSO yang diberikan pemerintah kepada PT. KA tidak mencukupi dibandingkan apabila PT. KA menetapkan harga jual pelayanannya sesuai harga pasar. Solusinya? Menurut berita itu hanya ada dua: 1)menaikkan PSO, atau 2)menaikkan tarif. Berhubung nampaknya pemerintah tidak akan menaikkan PSO, jadi opsi menaikkan tarif yang dipilih.
Apa bener cuma dua itu solusinya? Mungkin iya (males ah mikir alternatif solusi yang lain...hehehe).
Sekedar memberi inspirasi aja, kalau diperhatikan setiap hari kereta ekonomi mondar-mandir selalu penuh. Kata penuh sebenarnya kurang tepat karena penuh juga bisa berarti sesuai kapasitas. Yang kita lihat adalah bukan lagi penuh, tapi sudah over capacity. Dengan perhitungan harga pasar, aku yakin ada perhitungan tersendiri berapa modal yang dikeluarkan setiap kereta api berjalan sehingga ada target jumlah penumpang tertentu yang harus dicapai untuk menutupi modal atau mereguk keuntungan. Rasanya gak mungkin jumlah penumpang yang ditargetkan dalam setiap kali perjalanan adalah se"luber" seperti yang selalu kita lihat. Kalau memang sebanyak itu targetnya, weleeeh...itu namanya pelayanan prima a la apa? hehehe. Jumlah penumpang yang duduk dan berdiri dalam satu gerbong biasanya tertulis kok di bagian atas pintu penghubung antar gerbong.
Kalau dihubungkan dengan PSO, dari perhitungan dengan harga pasar kan kelihatan berapa persen PSO yang diberikan pemerintah mampu menutupi kerugian yang diderita. Dengan jumlah PSO yang kurang memadai, memang pilihannya menaikkan tarif atau menambah jumlah penumpang. Kalau nambah jumlah penumpang...hehehe...makin jadi ikan asin dong penumpang-penumpang di dalam keretanya. Logika bahwa menaikkan tarif adalah konsekuensi logis jika pelayanan ingin dipertahankan, untuk hal ini ok laah.
TAPI....aku punya pertanyaan lucu-lucuan. Apakah penumpang yang sebejibun itu semuanya membayar tiket? Aku sangat yakin tidak (bukan berarti aku tukang gratisan naek kereta loh hahaha). Apakah tiket yang disediakan PT KA mampu memenuhi kebutuhan tiket seluruh penumpang yang ikut dalam setiap kali perjalanan kereta? Kalau mengacu pada pelayanan, mestinya jumlah tiket yang disediakan adalah sesuai kapasitas gerbong dong. Becul cidak? :D Kalau memang tiket yang tersedia sesuai kapasitas, berarti dalam kondisi kereta luber, sebagian penumpang diiklaskan untuk tidak membayar tiket dong. Atau, apakah keadaan sesak begitu adalah memang sesuai kapasitas gerbong?
Kondisi over capacity memperpendek usia gerbong dan menambah biaya perawatan. Kalau sebagian penumpang nggak beli tiket, ya pasti rugi hehehe. Naaah sampe situ aja pertanyaan-pertanyaannya. Kalau mau nambah pertanyaan silahkan hehehe. Yang penting bukan aku yang jawab.
Dari pengamatanku, langkah yang paling tepat diambil saat ini adalah berinvestasi untuk menata sistem agar setiap penumpang yang menggunakan jasa kereta api membayar tiket. Caranya? Lagi-lagi bukan dengan memasang banner gede bertulisan "HARI GINI NGGAK BELI TIKET? APA KATA DUNIA!" hihihi. Di banyak stasiun aku perhatikan "pernah" ada upaya untuk itu, yaitu antara lain memasang alat kontrol tiket elektronik di pintu masuk ke peron tapi belum pernah liat alat ini digunakan. Fungsi alat kontrol ini digantikan oleh petugas-petugas keamanan hehehe. Dengan sistem seperti itu, tetap saja banyak kan yang tidak beli tiket? Menurutku, tiket akan terkontrol dengan baik kalau semua stasiun sudah benar-benar tertutup. Artinya, akses masuk ke stasiun dan ke peron benar-benar terkontrol. Kebanyakan di stasiun sekarang, orang masih bisa masuk ke peron dari segala arah mata angin :D. Selain kerugian bagi PT KA, kondisi ini menjadikan stasiun rawan dan kenyamanan dan keamanan bagi calon penumpang di stasiun menjadi tidak terjamin.
Setelah sistem ini berjalan dan pelayanan prima, kalau masih juga rugi...baru naik tarif. hehehe. Yoooo mbuuuh laah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Blog ini menerapkan setting Dofollow. Mohon jangan melakukan spam.